Kenapa Aku Sering Bohong pada Diri Sendiri?

Sesekali aku pernah bertanya pada diri sendiri seperti ini: “Kenapa aku sering bilang ‘baik-baik saja’, padahal hati dan hariku lagi kacau?” Mungkin kamu juga pernah merasa begitu. Tanpa sadar, kita kadang bohong pada diri sendiri untuk menenangkan perasaan, menghindari konflik, atau sekadar supaya nyaman sesaat.

1. Apa Itu “Bohong pada Diri Sendiri”?

Bohong pada diri sendiri bukan berarti menipu secara sadar, tapi menolak mengakui perasaan atau kenyataan yang sulit diterima.

  • Contoh sederhana: bilang “aku baik-baik aja” padahal stres berat menghadapi pekerjaan atau studi.

  • Dari perspektif psikologi, ini dikenal sebagai self-deception, mekanisme pertahanan diri agar kita tetap merasa aman secara emosional (Trivers, 2011).

2. Kenapa Kita Melakukannya

  • Menghindari Rasa Sakit: Otak kita cenderung mencari kenyamanan, kadang menutupi fakta yang tidak menyenangkan.

  • Takut Dikritik atau Ditolak: Menyembunyikan kelemahan agar orang lain tetap menghargai kita.

  • Kebiasaan Sehari-hari: Semakin sering kita menekan perasaan, semakin sulit mengenali kebutuhan asli diri sendiri.

3. Dampak Bohong pada Diri Sendiri

  • Menimbulkan stres dan kecemasan jangka panjang.

  • Sulit mengambil keputusan yang selaras dengan nilai pribadi.

  • Mengurangi rasa percaya diri karena kita tidak hidup sejujur mungkin.

Penelitian psikologi (Shepperd et al., 2015) menunjukkan bahwa orang yang jujur pada diri sendiri lebih bahagia dan puas dengan hidupnya.


4. Kapan Harus Jujur dan Kapan Boleh Menahan / “Bohong” Ringan?

A. Jujur pada Diri Sendiri

  • Saat menilai perasaan, kebutuhan, dan tujuan hidup.

  • Saat mengambil keputusan besar: pendidikan, karier, atau hubungan.

  • Logisnya: jika kita terus menipu diri sendiri, keputusan yang dibuat akan tidak realistis dan merugikan.

  • Perspektif Islami: Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang yang jujur akan selalu berada di jalan kebaikan” (HR. Bukhari & Muslim).

B. Menahan atau Berbohong Ringan untuk Kebaikan

  • Boleh dilakukan untuk menghindari konflik atau menyelamatkan perasaan orang lain, selama tidak merugikan diri atau orang lain.

  • Contoh sederhana: teman masak hasil eksperimen kulinermu gagal, tapi kamu bilang “rasanya oke” untuk tidak menyakiti perasaannya.

  • Logisnya: ini strategi sosial adaptif, dan dalam Islam dikenal sebagai “al-khidā‘ al-ma‘rūf”—berbohong demi maslahat yang lebih besar.

Jadi, jujur itu wajib pada diri sendiri dan nilai-nilai penting, tapi dalam konteks sosial tertentu, menahan atau “bohong ringan” bisa diterima akal dan Islam, selama tujuannya baik.

 

5. Cara Mulai Jujur pada Diri Sendiri

  • Catat perasaanmu: Luangkan 5 menit menulis apa yang kamu rasakan tanpa sensor.

  • Ajukan pertanyaan kritis: “Apakah aku melakukan ini karena aku ingin, atau karena orang lain mengharapkan?”

  • Praktik bertahap: Mulai dari hal kecil agar lebih realistis.

Kita bisa mulai dengan jurnal harian 5 menit, mencatat satu hal yang biasanya kita sembunyikan dari diri sendiri. 

Soo...

Bohong pada diri sendiri wajar, tapi jika dibiarkan terus, bisa merusak hubungan dengan diri dan orang lain. Dengan jujur sedikit demi sedikit, hidup kita lebih damai, lebih fokus, dan selaras dengan nilai pribadi. Dalam Islam, kejujuran adalah jalan kebaikan, sementara menahan ucapan atau “bohong ringan” hanya boleh untuk maslahat dan kebaikan sosial, dengan batas yang jelas.




Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎ℎ 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖… 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡— 𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 🌿