🤐Apakah Kita Sedang dipengaruhi Sihir Modern yang Diwarisi Babilonia Dulu?


Sebuah kota yang bangkit ribuan tahun lalu di tanah Mesopotamia. Kekuatannya bukan datang dari menara emas, tetapi dari kitab-kitab penuh rahasia yang memberi mereka kekuatan supranatural. Babilonia, kota yang diselimuti menara-menara menantang langit, dipenuhi kekayaan dan kejayaan. Namun yang membuat Babilonia benar-benar istimewa adalah rahasia terlarang yang tersembunyi di balik temboknya.

Semua berubah ketika dua makhluk misterius turun ke Babilonia dan mengajarkan sihir kepada manusia. Ketika mereka belajar dan menggunakan sihir itu, hal-hal mengerikan mulai terjadi. Kota kuno Mesopotamia ini, yang pernah menjadi legenda di antara dua sungai, diuji dengan mantra-mantra gelap dan berbahaya.

Tulisan ini menceritakan kisah Harut dan Marut, yang menurut Al-Qur’an diutus ke bumi untuk mengajarkan manusia ilmu sihir.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Sejarah tidak sekadar mencatat Babilonia sebagai kota, melainkan sebagai titik temu antara kebijaksanaan tertinggi umat manusia dan lorong tergelap pengetahuan terlarang. Di tanah ini, gerakan langit diurai, rumus magis digoreskan, dan masa depan ditafsir dari kedipan bintang-bintang.

Namun, apakah Babilonia hanyalah tempat lahirnya astronomi dan matematika? Ataukah ada bisikan rahasia yang menyelinap ke telinga manusia? Al-Qur’an, dalam Surat Al-Baqarah ayat 102, menyimpan kisah misterius tentang dua makhluk langit: Harut dan Marut—malaikat yang diturunkan dengan membawa ilmu terlarang. Mengapa mereka mengajarkan sihir? Untuk menguji manusia, atau justru membuka jalan bagi Babilonia meraih kemewahan dan teknologi yang melampaui zamannya?

Mari kita kembali ke masa-masa, fase sebelum Harut dan Marut diturunkan ke Babilonia.

Profil Babilonia

Dahulu, di sebuah dataran subur antara sungai Efrat dan Tigris, berdirilah Babilonia—permata Timur Tengah yang menjadi pusat kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan misteri yang tak terpecahkan. Terletak di wilayah Irak modern, kota ini mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Hammurabi dan kemudian Raja Nebukadnezar II. Dinding kotanya menjulang megah, dan gerbang Ishtar bersinar dengan ukiran biru berlapis sejarah. Tapi di balik kemegahan itu, Babilonia juga dikenal sebagai tempat lahirnya sistem pengetahuan yang bercabang dua: satu menjulang tinggi dengan riset astronomi dan matematika yang memukau—dan satu lagi menyelinap dalam kegelapan, berupa ilmu sihir dan okultisme yang konon diturunkan dari makhluk gaib. 

Sebuah jurnal dari Ancient Mesopotamia: New Perspectives (Snell, 2007) mencatat bahwa para pendeta Chaldean tidak hanya mengamati bintang, tapi juga merapal mantra dan membaca nasib dari organ hewan dan bentuk asap. Tak heran, Babilonia bukan sekadar kota—ia adalah cermin manusia yang haus akan kuasa, baik melalui cahaya ilmu maupun bayangan sihir. Renungkan: ketika sebuah peradaban begitu cerdas dan maju, mengapa ia memilih menyimpan kekuatan gelap dalam fondasinya?

Namun, di balik kejayaan intelektual dan keangkuhan arsitektur, masyarakat Babilonia mulai tumbuh dalam kabut ilusi dan kerakusan. Jalanan dipenuhi simbol-simbol kekuatan yang tak kasat mata, dan penduduknya mulai lebih mempercayai jampi-jampi ketimbang logika. Mereka tak lagi mencari kebenaran, tapi kekuasaan yang bisa dibeli dengan darah, mantra, dan pengorbanan. Dan di titik ini, sejarah mulai bergetar. Pertanyaannya: ketika sebuah peradaban mulai menyembah kekuatan tak terlihat, apakah itu tanda kebangkitan… atau awal dari kehancuran?

Babilonia, yang dahulu bersinar dengan kejayaan ilmu dan tatanan hukum, perlahan terjerat dalam arus bawah kekuatan yang tak terlihat. Masyarakat mulai bergeser—dari logika ke takhayul, dari kebijakan ke kerakusan. Sihir bukan lagi sekadar alat penasaran, tetapi menjadi instrumen kekuasaan. Di dalam kuil-kuil rahasia, mantra diperdagangkan; di pasar-pasar malam, jimat dan kutukan diperjualbelikan. Para dukun bukan hanya dihormati, tapi ditakuti dan dibayar mahal. 


Sebuah catatan dari The Babylonian Magics and Sorcery (King, 1896) menyebutkan bagaimana masyarakat Mesopotamia menggunakan sihir untuk mempengaruhi pernikahan, bisnis, meraih posisi politik bahkan membalas dendam. Zina, pemerasan, pengkhianatan, dan pengorbanan menjadi bagian dari keseharian. Struktur sosial pun runtuh pelan-pelan, Para pendeta dan penyihir duduk sejajar dengan penguasa, karena yang kuat bukan lagi yang adil—melainkan yang mampu menguasai kekuatan gelap.



Dan saat langit Babilonia semakin pekat oleh asap dupa dan bisik-bisik peramal, muncul kegelisahan yang menyusup ke dalam nadi zaman: jika sihir begitu meluas, siapa yang sebenarnya mengawalnya? Rumor pun beredar, bahwa kekuatan-kekuatan ini bukan dari manusia biasa—melainkan warisan dari seorang raja agung yang diyakini memerintah bukan hanya atas manusia, tapi juga jin dan alam gaib. Nama itu dibisikkan dalam kegelapan dan diumumkan dengan tuduhan yang menusuk: Sulaiman. Tapi benarkah seorang nabi membawa sihir… atau ada kebenaran besar yang sengaja dikaburkan oleh sejarah?

Tuduhan terhadap Nabi Sulaiman AS atas Sihir 

Nama Sulaiman mulai bergema di lorong-lorong Babilonia, bukan sebagai nabi mulia, tetapi sebagai dalang di balik sihir yang kini meracuni peradaban. Ia bukan hanya dituduh menguasai jin, tapi juga menggunakan mereka untuk menundukkan langit dan bumi.

Sebuah fitnah besar, disebar oleh para pendeta dan ahli sihir yang cemas akan hilangnya dominasi mereka. Padahal, menurut Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 102, Allah dengan tegas membela: “Wa mā kafara Sulaymān, wa lākinna al-shayāṭīn kafarū…”—“Dan Sulaiman tidaklah kafir, tetapi syaitanlah yang kafir, mereka mengajarkan manusia sihir…” 

Pernyataan ini bukan hanya pembelaan ilahi, tapi juga klarifikasi sejarah, bahwa sihir bukan warisan kenabian, melainkan warisan para setan yang ingin menyamarkan kekuasaan spiritual sejati di balik kabut tipu daya. Di era ketika kebenaran dan kebohongan sulit dibedakan, nama Nabi pun bisa dipelintir menjadi simbol kutukan. Renungkanlah—betapa dahsyatnya kekuasaan gelap, sampai-sampai seorang nabi pun tak luput dari fitnahnya.

Dan di sinilah babak baru sejarah Babilonia dimulai. Ketika bumi sudah sesak oleh kebingungan antara wahyu dan sihir, antara kebenaran dan ilusi, sebuah keputusan diturunkan dari langit: dua malaikat, Harut dan Marut, akan dikirim ke bumi. Tapi mereka tak membawa azab… mereka membawa ujian.

Keputusan agung pun turun dari langit. Dua makhluk cahaya dipilih, bukan untuk menghukum, tapi untuk mengajar—agar manusia bisa memilih. Mereka adalah Harut dan Marut.

Turunnya Harut & Marut Membawa Misi Khusus

Turun di tanah Babilonia—bukan sebagai nabi, bukan pula sebagai penguasa—tetapi sebagai ujian.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 102, Allah menegaskan:
"…dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babilonia, yaitu Harut dan Marut. Dan keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun sebelum mengatakan, 'Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah engkau kafir…'"

Para mufasir seperti Ibn Katsir dan Al-Qurtubi sepakat: keduanya diturunkan bukan untuk menyebarkan sihir, melainkan untuk menguji manusia. Mereka menjelaskan struktur sihir—bukan untuk mempromosikannya, melainkan agar manusia bisa menyadari bahayanya. Dan setiap kali seseorang datang untuk belajar dan sebelum satu kata pun diajarkan, mereka selalu memperingatkan:
"Inna mā naḥnu fitnatun fa-lā takfur..."
“Kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu kufur.”, 

Harut dan Marut tidak pernah lupa memperingatkan, “Ini cobaan. Jangan kufur.”

Namun seperti kupu-kupu yang selalu terbang ke arah api, manusia tetap mendekat. Ilmu yang seharusnya menjadi batas peringatan, justru jadi jalan pintas menuju ambisi. Mereka mempelajari bagaimana memecah rumah tangga dengan satu kalimat, bagaimana menundukkan kehendak orang lain, bahkan menanamkan rasa sakit tanpa menyentuh kulit.

Ironisnya, Harut dan Marut tidak pernah memaksa. Mereka hanya membuka pintu pilihan—dan manusia sendirilah yang memutuskan untuk masuk. Karena pada akhirnya, sihir bukan sekadar ilmu… ia adalah nafsu yang dibungkus formula, ambisi yang diberi jubah spiritual, dan pengkhianatan terhadap fitrah.

Beberapa riwayat Israiliyat—seperti yang disebutkan oleh Al-Tha’labi dan Al-Tabari—menceritakan bahwa Harut dan Marut awalnya adalah malaikat yang memohon kepada Allah untuk membuktikan bahwa mereka lebih kuat menahan godaan dunia daripada manusia. Maka Allah pun menurunkan mereka dalam bentuk manusia… dan sisanya menjadi sejarah kelam yang tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, para ulama hadits seperti Ibn Hajar menegaskan bahwa riwayat-riwayat seperti ini tidak dijadikan dasar hukum, namun hanya sebagai pelengkap kisah, bukan sebagai kebenaran mutlak.

Yang pasti, Harut dan Marut bukan pembawa kehancuran, mereka adalah cermin—untuk menunjukkan siapa manusia sebenarnya, ketika diberikan pilihan antara terang dan gelap.

Lalu… mengapa Allah menurunkan Harut dan Marut?
Bukankah sihir sudah menyebar? Untuk apa diajarkan lagi?

Jawabannya… bukan karena manusia butuh sihir baru. Tapi karena manusia tak lagi membedakan mana sihir dan mana wahyu.

Banyak dari mereka sudah melupakan Allah—atau mencampur keyakinan tauhid dengan takhayul. Mereka percaya kekuatan langit… tapi menisbatkannya pada benda, simbol, bahkan arwah leluhur. Maka turunnya Harut dan Marut adalah klarifikasi langit: bahwa ini bukan wahyu, ini adalah fitnah. Bahwa ini bukan mukjizat, ini adalah ujian.

“Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu kufur.”
(QS. Al-Baqarah: 102)

Sihir yang diajarkan bukanlah “sihir baru”—melainkan pengungkapan struktur sihir yang sudah tersembunyi. Para ulama tafsir seperti Al-Qurtubi dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa malaikat tidak memperkenalkan sesuatu yang belum dikenal, tapi mereka memperjelas batas antara ilmu dan kekufuran.
Bukan untuk memperluas kejahatan, tetapi untuk menguji kejujuran.

Namun… di sinilah tragedi terjadi.
Apa yang dimaksudkan sebagai peringatan, justru diambil sebagai kesempatan.
Manusia tidak hanya mempelajari, tapi mulai menyebarkan.
Mereka tidak lagi datang untuk memahami—mereka datang untuk menguasai.

Babilonia pun terbalik.
Yang dulu jadi alarm kini jadi alat.
Yang dulu jadi ujian kini jadi budaya.

seperti sebuah bangunan yang retak dari dalam,
peradaban Babilonia pun mulai runtuh.

Dan dari kehancuran mereka—tersimpan pelajaran besar… bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk kita… hari ini.


Sejarah mencatat betapa kelamnya dampak sihir yang disalahgunakan. Babilonia—kota yang pernah megah—konon runtuh karena penyebaran ilmu sihir. Di Mesir Kuno, para firaun dituduh menggunakan sihir untuk mempertahankan tahta. Pada Abad Pertengahan, ribuan orang dituduh mempraktikkan sihir, lalu dibakar oleh pengadilan Inkuisisi. Bahkan dalam ajaran mistik seperti Kabbalah, terdapat mantra gelap yang diklaim berasal dari warisan Harut dan Marut. Sebagian orang percaya, mantra-mantra itu masih digunakan hingga sekarang—dan masih sama berbahayanya.

Semua ini menunjukkan bahwa bukan pengetahuannya yang salah, tetapi bagaimana ia digunakan. Bayangkan—dulu para penyihir Babilonia menulis ilmu mereka di atas tablet batu. Hari ini, manusia pun memegang “tablet” kecil dalam genggamannya: komputer, smartphone, dan jaringan global berisi segala informasi, termasuk yang terlarang.

Apakah kita sedang mengulangi kesalahan yang sama, dalam bentuk yang berbeda?

Di antara ajaran Harut dan Marut, tersembunyi kekuatan besar: kekuatan pikiran dan kehendak. Di masa lalu, kekuatan ini disebut sihir. Hari ini, ia dikenal dengan nama yang lebih ilmiah—psikologi, hipnosis, dan neurosains.

Dulu, para penyihir menggunakan mantra, simbol, dan ritual untuk memengaruhi emosi dan tindakan manusia. Kini, pengaruh itu hadir lewat cara yang lebih halus—pesan bawah sadar, framing media, teknik neurolinguistik, bahkan algoritma.

Pertanyaannya bukan lagi: “Apakah sihir itu nyata?”
Tetapi: “Apakah kita menyadari bentuk barunya di era digital?”

Penyihir kuno memengaruhi manusia dengan kata-kata dan simbol. Hari ini, iklan, lagu, dan film memainkan peran serupa. Lirik lagu bisa menyusup ke dalam pikiran tanpa kita sadari. Gambar latar dalam iklan bisa mengubah cara berpikir tanpa kita tahu kapan dan bagaimana caranya.

Dalam film Disney dan produksi Hollywood lainnya, tersembunyi gambar-gambar yang hanya muncul sepersekian detik—terlalu cepat untuk disadari oleh mata, tapi cukup kuat memengaruhi alam bawah sadar. Teknik ini dikenal sebagai iklan subliminal. Ia bisa menanamkan keinginan, menciptakan rasa takut, cemas, atau justru nyaman. Tapi apakah ini sekadar trik marketing, atau wajah baru dari sihir di dunia modern?

Apa yang muncul di feed media sosial kita—apakah benar pilihan kita, atau ada yang secara halus mengarahkan apa yang harus kita pikirkan? Instagram, YouTube, TikTok—bahkan berapa lama kita menatap satu postingan pun kini diukur dan dianalisis. Apakah konten yang ditampilkan benar-benar “untuk kita”? Atau ada kekuatan tersembunyi yang membentuk kesadaran kolektif kita?

Dulu, anak-anak diajari arti kejujuran, hormat, dan rasa malu. Kini, mereka sering dibesarkan dengan satu tujuan utama: menang dengan cara apa pun—meskipun itu berarti mengorbankan orang lain. Dahulu, seseorang yang berbuat salah merasa bersalah. Sekarang, sering kali, orang yang mengungkap kesalahan justru yang dimusuhi.

Saat seseorang terjatuh, dulu banyak yang meraih tangan mereka. Sekarang? Yang terlihat hanyalah kamera ponsel—bukan untuk menolong, tapi untuk merekam dan menyebar demi ketenaran pribadi. Apa yang berubah? Bagaimana transisi moral ini terjadi begitu cepat?


Nilai-nilai di bangun sejak kecil, dan pengaruh utama datang dari apa yang kita lihat dan dengar setiap hari. Dulu, berjoget dilakukan di acara seni atau latihan ekstrakurikuler — ada ruang dan waktunya. Sekarang, joget bisa dilakukan di mana saja: di sekolah, di jalan, bahkan di ruang publik lain, karena tren media sosial.

Perubahan ini bukan tentang benar atau salah, tapi tentang bagaimana media membentuk kebiasaan baru. Jika tak disadari, nilai-nilai lama bisa perlahan tergeser — bukan karena hilang, tapi karena tak lagi terlihat.

Menurut laporan Making Caring Common dari Harvard Graduate School of Education (2014), sekitar 80% siswa memilih pencapaian atau kebahagiaan pribadi sebagai prioritas terbesar, sementara hanya 20% yang memilih peduli kepada orang lain sebagai nilai utama.

Di sisi lain, data dari Common Sense Media (2021) menunjukkan bahwa remaja usia 13–18 tahun menghabiskan rata-rata 7–8,5 jam per hari menatap layar digital. Waktu layar seperti ini berdampak langsung pada cara berpikir, merasakan, dan bahkan membentuk kebiasaan serta interaksi sosial mereka. 


Dulu kita diajari:

“Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin mereka lakukan padamu.”

Sekarang… sering terdengar lemahnya suara hati:

“manfaatkan orang lain sebelum kamu yang dmanfaatkan, tinggalkan orang lain sebelum kamu ditinggalka.”

Menurut studi Twenge & Campbell (2018) di Preventive Medicine Reports mencatat, generasi digital kini mengalami pergeseran drastis dalam relasi keluarga karena screen time. Waktu bersama orang tua menurun drastis, sementara waktu layar meningkat tajam. Budaya "instan" dan algoritma yang mengatur apa yang kita lihat—dan akhirnya pikirkan—telah menciptakan generasi yang lebih terhubung secara virtual, namun terputus secara emosional.



apakah ini wujud dan definisi kebebasan yang kita didamba-dambakan?

Dan pada akhirnya, kita sendirilah yang memilih: Melanjutkan pergeseran ini… atau kembali membangun nilai yang hilang.

Kita membangun kota, menaklukkan langit, menciptakan mesin yang lebih cerdas dari penciptanya.
Namun, dalam setiap loncatan teknologi, tersimpan pertanyaan yang sama:
Apakah ini semua bentuk kemajuan… atau awal kehancuran? Di saat kita memahat masa depan, kita sering lupa siapa yang memberi kita tangan untuk memahatnya. Kita lebih percaya mesin daripada wahyu, Lebih bangga pada algoritma daripada akhlak, Lebih sibuk menciptakan 'Tuhan baru' daripada tunduk pada Tuhan yang Esa.

Padahal, sejak awal penciptaan, Allah telah menyatakan bahwa manusia adalah makhluk pilihan.
Allah bahkan menyampaikan kepada para malaikat:

"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."
(QS. Al-Baqarah: 30)

Hari ini, ketika sebagian manusia melawan fitrahnya dan merusak apa yang telah dititipkan,

kita patut bertanya kepada diri sendiri:
masihkah kita menjaga kehormatan sebagai ciptaan yang dimuliakan?

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tin: 4)

Ini bukan tentang menyalahkan, melainkan tentang menyadari: apakah kita masih pantas disebut sebagai yang terbaik, jika tak lagi menjaga amanah yang dipercayakan?

Jangan lewatkan eksplorasi berikutnya dalam menyingkap sisi lain dari ilmu, kepercayaan, dan sejarah manusia. Tak harus sepakat. Tapi jika dirasa ini layak untuk direnungkan, silakan subscribe untuk mengikuti kami. Terima kasih telah menyimak.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

  📚 Untuk penelusuran spiritual lainnya, follow blog @milainsight. Dan jika ingin melihat visual kisah ini secara sinematik, kunjungi channel YouTube @NoorOcculta. Karena ada hikmah… yang baru terasa ketika kita benar-benar melihatnya.

 

 

 






Posting Komentar

𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎ℎ 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖… 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡— 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 🌿