Ada ketakutan yang tak bisa diucapkan lantang.
Bukan karena tak penting—tapi karena sering diremehkan.
Perempuan menyimpannya dalam diam dan sangat rapi. Menahannya dalam senyum. Membiasakannya sebagai bagian dari hidup.
Ketakutan itu bukan soal membenci laki-laki. Bukan pula karena tak ingin mencintai.
Melainkan ketakutan akan kehilangan dirinya sendiri.
Ketika sebuah ikatan ijab qabul, yang katanya suci, justru merampas ruang bernapas, merantai kehidupan layaknya sesama manusia. Ketika cinta berubah menjadi tanggung jawab sepihak, dan kasih sayang menjadi tugas yang tak pernah selesai dibalas.
Terlalu sering, perempuan melihat perempuan lain perlahan meredup setelah menikah.
Terlalu sering, perempuan melihat perempuan lain kehilangan jati diri setelah ditinggalkan tanpa alasan.
Terlalu sering, perempuan melihat perempuan lain menunda lapar demi terpenuhnya kebutuhan pasangan.
Yang dulu bersinar kini memudar.
Yang punya mimpi kini hanya sibuk bertahan.
Bukan karena pernikahan itu buruk—tapi karena dalam banyak kisah,
perempuan belajar lebih dulu mencintai orang lain sebelum mencintai dirinya sendiri.
Apakah hanya seperti ini pemandangan realita yang akan selalu disuguhkan di lapangan atau sekedar sudut pandang sang pencerita?
Tak semua laki-laki seperti itu—tentu tidak. Tapi cukup banyak yang membuat ketakutan ini beralasan. Dan perempuan tak selalu punya ruang untuk mengatakan ini tanpa dicap terlalu pemilih, terlalu menuntut, terlalu perasa atau terlalu sensitif. Sejatinya bagi yang memahami, seperti itulah kami dianugrahkan rasa. Padahal, ini bukan sekadar pilihan tentang cinta. Ini tentang kelangsungan hidup bersama dalam menjaga kewarasan.
Namun di balik itu semua…
masih ada rasa percaya yang tak luput dari harapan.
Bahwa di dunia ini, masih banyak laki-laki yang tulus, baik, memahami kenapa ia diciptakan.
Masih banyak laki-laki yang tidak akan tega menorehkan luka dan tangisan kepada tulang rusuknya.
Yang mengerti bahwa cinta bukan sekadar peran atau tanggung jawab.
Tapi saling menumbuhkan. Saling merawat. Saling menjadi rumah.
Masih ada laki-laki yang melihat perempuan sebagai rekan sejajar.
Yang tidak takut pada kekuatan perempuan, justru melindunginya tanpa membuatnya merasa lemah dan rendah.
Yang ketika bersandar padanya, bukan untuk diistirahatkan… tapi untuk diajak berjalan bersama dan saling menyembuhkan.
Ketakutan itu bukan tentang membenci pernikahan.
Melainkan tentang harapan agar ikatan itu benar-benar aman dan nyata.
Bahwa ketika seorang perempuan menyerahkan hati dan hidupnya…
ada tangan yang benar-benar siap menjaga, bukan menguasai.
Ada jiwa yang tak hanya ingin dibantu, tapi juga siap membantu.
Karena sejatinya, perempuan bukan takut mencintai.
Perempuan hanya ingin dicintai tanpa harus kehilangan jati dirinya.
Dan laki-laki yang benar, masih ada.
Dan layak dicintai setulus-tulusnya.
Semua ini bukan vonis atas satu sisi, bukan pula tuduhan. Ini hanyalah catatan perasaan yang muncul dari banyak pengamatan dari kacamata keseharian pencerita. Sebuah renungan yang lahir karena ingin hati tetap utuh, jati diri semakin tumbuh dan hidup tetap layak dan waras untuk dihadapi. Mungkin inilah mengapa banyak gadis menunda langkah, memilih untuk tetap diam, meski usia dan waktu terus berjalan. Bukan karena enggan membuka hati, tapi karena ingin memastikan bahwa langkah yang diambil bukanlah jalan menuju luka yang sama seperti yang telah terlihat dan teramati. Dan dari titik ini, pertanyaan baru pun muncul: bagaimana kondisi sosial dan moral masyarakat turut membentuk pola pikir, ketakutan, dan keputusan dalam membangun sebuah kehidupan bersama untuk diri sendiri?
Tidak semua luka harus diumbar, dan tidak semua ketakutan perlu diceritakan pada dunia. Tapi tahu bahwa ada yang memahami—itu seringkali cukup menyembuhkan. Jika tulisan ini menyentuhmu, jangan ragu untuk berbagi pandangan atau rasa di kolom komentar. Kadang, dengan menuliskannya, bebanmu sedikit lebih ringan. Satu kalimat sederhana dari sesama perempuan bisa menjadi kekuatan baru untuk melangkah ke depan dan siapa tahu, kisahmu bisa jadi pelita untuk perempuan lain yang sedang bingung mengambil langkah. Adapun bagi yang beruntung, dianugrahkan pasangan yang memahami akan kodratnya, bisa menjadi secarcik pelita harapan membangun rasa percaya, menumbuhkan keberanian untuk lebih segera bergegas.
Tulisan ini bukan hanya tentang perempuan semata, begitupun tentang laki-laki yang berada di posisi yang sama. Malah posisi mereka terkadang lebih parah dan tragis. Entah kenapa, penulis sangat tersentuh menyaksikan laki-laki yang masih memegang teguh peran mereka seutuhnya. Pemandangan yang sangat langka. Kami, para perempuan... sangat bangga.
Posting Komentar