Sebuah kota yang bangkit ribuan tahun lalu di tanah Mesopotamia. Kekuatannya bukan datang dari menara emas, tetapi dari kitab-kitab penuh rahasia yang memberi mereka kekuatan supranatural. Babilonia, kota yang diselimuti menara-menara menantang langit, dipenuhi kekayaan dan kejayaan. Namun yang membuat Babilonia benar-benar istimewa adalah rahasia terlarang yang tersembunyi di balik temboknya.
Semua berubah ketika dua makhluk misterius
turun ke Babilonia dan mengajarkan sihir kepada manusia. Ketika mereka belajar
dan menggunakan sihir itu, hal-hal mengerikan mulai terjadi. Kota kuno
Mesopotamia ini, yang pernah menjadi legenda di antara dua sungai, diuji dengan
mantra-mantra gelap dan berbahaya.
Tulisan ini menceritakan kisah Harut dan Marut,
yang menurut Al-Qur’an diutus ke bumi untuk mengajarkan manusia ilmu sihir.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Sejarah tidak sekadar mencatat
Babilonia sebagai kota, melainkan sebagai titik temu antara kebijaksanaan
tertinggi umat manusia dan lorong tergelap pengetahuan terlarang. Di tanah ini,
gerakan langit diurai, rumus magis digoreskan, dan masa depan ditafsir dari
kedipan bintang-bintang.
Namun, apakah Babilonia hanyalah
tempat lahirnya astronomi dan matematika? Ataukah ada bisikan rahasia yang
menyelinap ke telinga manusia? Al-Qur’an, dalam Surat Al-Baqarah ayat 102,
menyimpan kisah misterius tentang dua makhluk langit: Harut dan Marut—malaikat
yang diturunkan dengan membawa ilmu terlarang. Mengapa mereka mengajarkan
sihir? Untuk menguji manusia, atau justru membuka jalan bagi Babilonia meraih
kemewahan dan teknologi yang melampaui zamannya?
Mari kita kembali ke masa-masa, fase sebelum
Harut dan Marut diturunkan ke Babilonia.
Profil Babilonia
Dahulu, di sebuah dataran subur antara sungai Efrat dan Tigris, berdirilah Babilonia—permata Timur Tengah yang menjadi pusat kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan misteri yang tak terpecahkan. Terletak di wilayah Irak modern, kota ini mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Hammurabi dan kemudian Raja Nebukadnezar II. Dinding kotanya menjulang megah, dan gerbang Ishtar bersinar dengan ukiran biru berlapis sejarah. Tapi di balik kemegahan itu, Babilonia juga dikenal sebagai tempat lahirnya sistem pengetahuan yang bercabang dua: satu menjulang tinggi dengan riset astronomi dan matematika yang memukau—dan satu lagi menyelinap dalam kegelapan, berupa ilmu sihir dan okultisme yang konon diturunkan dari makhluk gaib.
Sebuah jurnal dari Ancient Mesopotamia: New Perspectives (Snell,
2007) mencatat bahwa para pendeta Chaldean tidak hanya mengamati bintang, tapi
juga merapal mantra dan membaca nasib dari organ hewan dan bentuk asap. Tak
heran, Babilonia bukan sekadar kota—ia adalah cermin manusia yang haus akan
kuasa, baik melalui cahaya ilmu maupun bayangan sihir. Renungkan: ketika sebuah
peradaban begitu cerdas dan maju, mengapa ia memilih menyimpan kekuatan gelap
dalam fondasinya?
Namun, di balik kejayaan
intelektual dan keangkuhan arsitektur, masyarakat Babilonia mulai tumbuh dalam
kabut ilusi dan kerakusan. Jalanan dipenuhi simbol-simbol kekuatan yang tak
kasat mata, dan penduduknya mulai lebih mempercayai jampi-jampi ketimbang logika.
Mereka tak lagi mencari kebenaran, tapi kekuasaan yang bisa dibeli dengan
darah, mantra, dan pengorbanan. Dan di titik ini, sejarah mulai bergetar.
Pertanyaannya: ketika sebuah peradaban mulai menyembah kekuatan tak terlihat,
apakah itu tanda kebangkitan… atau awal dari kehancuran?
Babilonia, yang dahulu bersinar dengan kejayaan ilmu dan tatanan hukum, perlahan terjerat dalam arus bawah kekuatan yang tak terlihat. Masyarakat mulai bergeser—dari logika ke takhayul, dari kebijakan ke kerakusan. Sihir bukan lagi sekadar alat penasaran, tetapi menjadi instrumen kekuasaan. Di dalam kuil-kuil rahasia, mantra diperdagangkan; di pasar-pasar malam, jimat dan kutukan diperjualbelikan. Para dukun bukan hanya dihormati, tapi ditakuti dan dibayar mahal.
Sebuah catatan dari The Babylonian Magics and Sorcery (King, 1896) menyebutkan bagaimana masyarakat Mesopotamia menggunakan sihir untuk mempengaruhi pernikahan, bisnis, meraih posisi politik bahkan membalas dendam. Zina, pemerasan, pengkhianatan, dan pengorbanan menjadi bagian dari keseharian. Struktur sosial pun runtuh pelan-pelan, Para pendeta dan penyihir duduk sejajar dengan penguasa, karena yang kuat bukan lagi yang adil—melainkan yang mampu menguasai kekuatan gelap.
Dan saat langit Babilonia semakin
pekat oleh asap dupa dan bisik-bisik peramal, muncul kegelisahan yang menyusup
ke dalam nadi zaman: jika sihir begitu meluas, siapa yang sebenarnya
mengawalnya? Rumor pun beredar, bahwa kekuatan-kekuatan ini bukan dari manusia
biasa—melainkan warisan dari seorang raja agung yang diyakini memerintah bukan
hanya atas manusia, tapi juga jin dan alam gaib. Nama itu dibisikkan dalam
kegelapan dan diumumkan dengan tuduhan yang menusuk: Sulaiman. Tapi
benarkah seorang nabi membawa sihir… atau ada kebenaran besar yang sengaja
dikaburkan oleh sejarah?
Tuduhan terhadap Nabi Sulaiman AS atas Sihir
Nama Sulaiman mulai bergema di lorong-lorong Babilonia, bukan sebagai nabi mulia, tetapi sebagai dalang di balik sihir yang kini meracuni peradaban. Ia bukan hanya dituduh menguasai jin, tapi juga menggunakan mereka untuk menundukkan langit dan bumi.
Sebuah fitnah besar, disebar oleh para pendeta dan ahli sihir yang cemas akan hilangnya dominasi mereka. Padahal, menurut Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 102, Allah dengan tegas membela: “Wa mā kafara Sulaymān, wa lākinna al-shayāṭīn kafarū…”—“Dan Sulaiman tidaklah kafir, tetapi syaitanlah yang kafir, mereka mengajarkan manusia sihir…”
Pernyataan ini bukan hanya pembelaan ilahi, tapi juga klarifikasi sejarah, bahwa sihir bukan warisan kenabian, melainkan warisan para setan yang ingin menyamarkan kekuasaan spiritual sejati di balik kabut tipu daya. Di era ketika kebenaran dan kebohongan sulit dibedakan, nama Nabi pun bisa dipelintir menjadi simbol kutukan. Renungkanlah—betapa dahsyatnya kekuasaan gelap, sampai-sampai seorang nabi pun tak luput dari fitnahnya.Dan di sinilah babak baru sejarah
Babilonia dimulai. Ketika bumi sudah sesak oleh kebingungan antara wahyu dan
sihir, antara kebenaran dan ilusi, sebuah keputusan diturunkan dari langit: dua
malaikat, Harut dan Marut, akan dikirim ke bumi. Tapi mereka tak membawa azab…
mereka membawa ujian.
Keputusan agung pun turun dari
langit. Dua makhluk cahaya dipilih, bukan untuk menghukum, tapi untuk mengajar—agar
manusia bisa memilih. Mereka adalah Harut dan Marut.
Turunnya Harut & Marut Membawa Misi Khusus
Turun di tanah Babilonia—bukan
sebagai nabi, bukan pula sebagai penguasa—tetapi sebagai ujian.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 102, Allah menegaskan:
"…dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babilonia, yaitu Harut
dan Marut. Dan keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun sebelum
mengatakan, 'Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah engkau
kafir…'"
“Kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu kufur.”,
Harut dan Marut tidak pernah lupa memperingatkan, “Ini cobaan. Jangan kufur.”
Namun seperti kupu-kupu yang
selalu terbang ke arah api, manusia tetap mendekat. Ilmu yang seharusnya
menjadi batas peringatan, justru jadi jalan pintas menuju ambisi. Mereka
mempelajari bagaimana memecah rumah tangga dengan satu kalimat, bagaimana menundukkan
kehendak orang lain, bahkan menanamkan rasa sakit tanpa menyentuh kulit.
Ironisnya, Harut dan Marut tidak
pernah memaksa. Mereka hanya membuka pintu pilihan—dan manusia
sendirilah yang memutuskan untuk masuk. Karena pada akhirnya, sihir bukan
sekadar ilmu… ia adalah nafsu yang dibungkus formula, ambisi yang
diberi jubah spiritual, dan pengkhianatan terhadap fitrah.
Beberapa riwayat
Israiliyat—seperti yang disebutkan oleh Al-Tha’labi dan Al-Tabari—menceritakan
bahwa Harut dan Marut awalnya adalah malaikat yang memohon kepada Allah untuk
membuktikan bahwa mereka lebih kuat menahan godaan dunia daripada manusia. Maka
Allah pun menurunkan mereka dalam bentuk manusia… dan sisanya menjadi sejarah
kelam yang tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Karena itu, para ulama
hadits seperti Ibn Hajar menegaskan bahwa riwayat-riwayat seperti ini tidak
dijadikan dasar hukum, namun hanya sebagai pelengkap kisah, bukan sebagai
kebenaran mutlak.
Yang pasti, Harut dan Marut bukan
pembawa kehancuran, mereka adalah cermin—untuk menunjukkan siapa
manusia sebenarnya, ketika diberikan pilihan antara terang dan gelap.
Jawabannya… bukan karena manusia butuh sihir baru. Tapi
karena manusia tak lagi membedakan mana sihir dan mana wahyu.
Banyak dari mereka sudah melupakan Allah—atau mencampur
keyakinan tauhid dengan takhayul. Mereka percaya kekuatan langit… tapi
menisbatkannya pada benda, simbol, bahkan arwah leluhur. Maka turunnya Harut
dan Marut adalah klarifikasi langit: bahwa ini bukan wahyu, ini adalah fitnah.
Bahwa ini bukan mukjizat, ini adalah ujian.
“Sesungguhnya kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu
kufur.”
(QS. Al-Baqarah: 102)
Sejarah mencatat betapa kelamnya dampak sihir yang disalahgunakan. Babilonia—kota yang pernah megah—konon runtuh karena penyebaran ilmu sihir. Di Mesir Kuno, para firaun dituduh menggunakan sihir untuk mempertahankan tahta. Pada Abad Pertengahan, ribuan orang dituduh mempraktikkan sihir, lalu dibakar oleh pengadilan Inkuisisi. Bahkan dalam ajaran mistik seperti Kabbalah, terdapat mantra gelap yang diklaim berasal dari warisan Harut dan Marut. Sebagian orang percaya, mantra-mantra itu masih digunakan hingga sekarang—dan masih sama berbahayanya.
Semua
ini menunjukkan bahwa bukan pengetahuannya yang salah, tetapi bagaimana ia
digunakan. Bayangkan—dulu para penyihir Babilonia menulis ilmu mereka di atas
tablet batu. Hari ini, manusia pun memegang “tablet” kecil dalam genggamannya:
komputer, smartphone, dan jaringan global berisi segala informasi, termasuk
yang terlarang.
Apakah
kita sedang mengulangi kesalahan yang sama, dalam bentuk yang berbeda?
Di
antara ajaran Harut dan Marut, tersembunyi kekuatan besar: kekuatan pikiran dan
kehendak. Di masa lalu, kekuatan ini disebut sihir. Hari ini, ia dikenal dengan
nama yang lebih ilmiah—psikologi, hipnosis, dan neurosains.
Dulu,
para penyihir menggunakan mantra, simbol, dan ritual untuk memengaruhi emosi
dan tindakan manusia. Kini, pengaruh itu hadir lewat cara yang lebih
halus—pesan bawah sadar, framing media, teknik neurolinguistik, bahkan
algoritma.
Pertanyaannya
bukan lagi: “Apakah sihir itu nyata?”
Tetapi: “Apakah kita menyadari bentuk barunya di era digital?”
Penyihir
kuno memengaruhi manusia dengan kata-kata dan simbol. Hari ini, iklan, lagu,
dan film memainkan peran serupa. Lirik lagu bisa menyusup ke dalam pikiran
tanpa kita sadari. Gambar latar dalam iklan bisa mengubah cara berpikir tanpa
kita tahu kapan dan bagaimana caranya.
Dalam
film Disney dan produksi Hollywood lainnya, tersembunyi gambar-gambar yang
hanya muncul sepersekian detik—terlalu cepat untuk disadari oleh mata, tapi
cukup kuat memengaruhi alam bawah sadar. Teknik ini dikenal sebagai iklan
subliminal. Ia bisa menanamkan keinginan, menciptakan rasa takut, cemas, atau
justru nyaman. Tapi apakah ini sekadar trik marketing, atau wajah baru dari
sihir di dunia modern?
Apa
yang muncul di feed media sosial kita—apakah benar pilihan kita, atau ada yang
secara halus mengarahkan apa yang harus kita pikirkan? Instagram, YouTube,
TikTok—bahkan berapa lama kita menatap satu postingan pun kini diukur dan
dianalisis. Apakah konten yang ditampilkan benar-benar “untuk kita”? Atau ada
kekuatan tersembunyi yang membentuk kesadaran kolektif kita?
Dulu,
anak-anak diajari arti kejujuran, hormat, dan rasa malu. Kini, mereka sering
dibesarkan dengan satu tujuan utama: menang dengan cara apa pun—meskipun itu
berarti mengorbankan orang lain. Dahulu, seseorang yang berbuat salah merasa
bersalah. Sekarang, sering kali, orang yang mengungkap kesalahan justru yang
dimusuhi.
Saat
seseorang terjatuh, dulu banyak yang meraih tangan mereka. Sekarang? Yang
terlihat hanyalah kamera ponsel—bukan untuk menolong, tapi untuk merekam dan
menyebar demi ketenaran pribadi. Apa yang berubah? Bagaimana transisi moral ini
terjadi begitu cepat?
Nilai-nilai
di bangun sejak kecil, dan pengaruh utama datang dari apa yang kita lihat dan
dengar setiap hari. Dulu, berjoget dilakukan di acara seni atau latihan
ekstrakurikuler — ada ruang dan waktunya. Sekarang, joget bisa dilakukan di
mana saja: di sekolah, di jalan, bahkan di ruang publik lain, karena tren media
sosial.
Perubahan
ini bukan tentang benar atau salah, tapi tentang bagaimana media membentuk
kebiasaan baru. Jika tak disadari, nilai-nilai lama bisa perlahan tergeser —
bukan karena hilang, tapi karena tak lagi terlihat.
Menurut laporan Making Caring Common dari Harvard Graduate School of Education (2014), sekitar 80 % siswa memilih pencapaian atau kebahagiaan pribadi sebagai prioritas terbesar, sementara hanya 20 % yang memilih “peduli kepada orang lain” sebagai nilai utama.
Di sisi lain, data dari Common Sense Media (2021) menunjukkan bahwa remaja usia 13–18 tahun menghabiskan rata-rata 7–8,5 jam per hari menatap layar digital. Waktu layar seperti ini berdampak langsung pada cara berpikir, merasakan, dan bahkan membentuk kebiasaan serta interaksi sosial mereka.
Dulu kita diajari:
“Jangan
lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin mereka lakukan padamu.”
Sekarang…
sering terdengar lemahnya suara hati:
“manfaatkan
orang lain sebelum kamu yang dmanfaatkan, tinggalkan orang lain sebelum kamu
ditinggalka.”
Menurut
studi Twenge & Campbell (2018) di Preventive Medicine Reports mencatat,
generasi digital kini mengalami pergeseran drastis dalam relasi keluarga karena
screen time. Waktu bersama orang tua menurun drastis, sementara waktu
layar meningkat tajam. Budaya "instan" dan algoritma yang mengatur
apa yang kita lihat—dan akhirnya pikirkan—telah menciptakan generasi yang lebih
terhubung secara virtual, namun terputus secara emosional.
apakah ini wujud dan definisi kebebasan yang kita didamba-dambakan?
Dan pada akhirnya, kita sendirilah yang memilih: Melanjutkan pergeseran ini… atau kembali membangun nilai yang hilang.
Kita
membangun kota, menaklukkan langit, menciptakan mesin yang lebih cerdas dari
penciptanya.
Namun, dalam setiap loncatan teknologi, tersimpan pertanyaan yang sama:
Apakah ini semua bentuk kemajuan… atau awal kehancuran? Di saat kita memahat
masa depan, kita sering lupa siapa yang memberi kita tangan untuk memahatnya.
Kita lebih percaya mesin daripada wahyu, Lebih bangga pada algoritma daripada
akhlak, Lebih sibuk menciptakan 'Tuhan baru' daripada tunduk pada Tuhan yang
Esa.
Padahal,
sejak awal penciptaan, Allah telah menyatakan bahwa manusia adalah makhluk
pilihan.
Allah bahkan menyampaikan kepada para malaikat:
"Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui."
(QS. Al-Baqarah: 30)
Hari ini, ketika sebagian manusia melawan fitrahnya dan merusak apa yang telah dititipkan,
kita patut bertanya kepada diri sendiri:
masihkah kita menjaga kehormatan sebagai ciptaan yang dimuliakan?
"Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tin: 4)
Wassalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakaatuh
Posting Komentar