Malas vs Malas-Malasan: Bedanya Tipis Tapi Dampaknya Besar!

{Cisitu baru, Kamis 1 Juni 2023_@qi.milaa}

Dua kata ini terdengar serupa tapi ternyata sangat berbeda: malas dan malas-malasan.Yang satu adalah bentuk istirahat yang sehat—kesadaran untuk memberi jeda setelah menunaikan kewajiban. Yang satunya lagi, adalah jebakan manis yang diam-diam menggerogoti semangat: malas-malasan.

Dan jujur saja, aku tahu bedanya sekarang... karena aku pernah terjebak di dalamnya. Beberapa bulan terakhir, aku kehilangan arah. Awalnya kupikir aku hanya “butuh rebahan sebentar.” Tapi lama-lama semua jadi pola. Kegiatan produktif makin jarang. Ide-ide hanya mampir di kepala tanpa pernah jadi nyata.

Blog ini pun ikut tenggelam dalam kebisuan.

Menurut penelitian UBC, kebiasaan menunda bukan hanya soal pengaturan waktu, tapi sering merupakan cara otak menghindari emosi yang tidak nyaman—takut gagal, takut tidak cukup baik. Begitu juga tinjauan dari Frontiers in Psychology: alih-alih karena kita tidak tahu cara mengatur waktu, sulitnya kita meneruskan tugas sering datang dari ketidakmampuan mengelola emosional.

Kadang, kita lebih memilih rebahan daripada menghadapi realita bahwa “aku mungkin tak sehebat itu.” 

Jadi, rasa “malas” itu—ternyata adalah kamuflase. Pelindung dari luka-luka kecil yang belum selesai.

Aku sempat merasa hampa. Tidak ada gairah, tidak ada mimpi yang benar-benar menyala. Waktu berjalan, tapi rasanya aku tidak ikut bergerak. Sampai suatu malam, aku teringat versi diriku yang dulu.

Gadis introvert yang diam-diam ambisius. Yang rela belajar berjam-jam, yang tidak peduli distraksi sosial maupun alam semesta. Yang menulis rencana masa depan di balik buku tulis dan benar-benar percaya pada mimpinya.

Menurut teori Possible Selves dari Hazel Markus (1986), ingatan akan “diri ideal masa lalu” bisa jadi kompas—penunjuk arah saat kita kehilangan jejak. Karena mengenali siapa dirimu dulu, bisa mengingatkanmu siapa kamu seharusnya sekarang. Hari ini, aku belum sepenuhnya bangkit. Tapi aku tahu, aku sedang menuju ke sana. 

Dan kalau kamu juga sedang merasa tersesat, mungkin bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu pernah terlalu kuat… dan lupa istirahat.💬 Pernahkah kamu merasa seperti ini juga?

Coba tulis di kolom komentar: apa yang biasanya bikin kamu stuck, dan bagaimana kamu perlahan bangkit? Siapa tahu ceritamu bisa bantu orang lain juga pulih.

Posting Komentar

𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎ℎ 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖… 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡— 𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 🌿