SAYYIDINA ALI BIN ABI THALIB QUOTES

💬 “Siapa sosok yang digelari ‘The Lion of Allah, Asadullah atau Singa Allah’, dikenal karena keberaniannya, kecerdasannya, dan kedekatannya dengan Rasulullah?”

Dialah Ali bin Abi Thalib R.A.—menantu Nabi, sahabat setia, dan Khalifah keempat yang namanya harum hingga hari ini. Di tengah hiruk pikuk dunia modern, generasi muda seperti kita—Millenial dan Gen Z—masih terus menemukan inspirasi dari kata-kata bijak beliau yang menyejukkan hati dan menyalakan semangat hidup.

Berikut ini adalah kumpulan kutipan asli dan valid dari Ali bin Abi Thalib R.A. yang kami rangkum dari sumber terpercaya seperti Nahjul BalaghahNahjul Balaghah adalah kumpulan khutbah, surat, dan hikmah Sayyidina Ali bin Abi Thalib R.A. Kitab ini menjadi salah satu sumber penting dalam literatur Islam, dikenal karena kedalaman makna, keindahan bahasa, dan kebijaksanaan yang abadi. Mari kita renungi bersama-sama:

📌 1. “Nilai seseorang tergantung pada apa yang ia kuasai.”

قَدْرُ الرَّجُلِ عَلَى قَدْرِ عِلْمِهِ
(Nahjul Balaghah, Hikmah No. 80) 
💡 Makna: Manusia dihargai bukan karena statusnya, tapi karena pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya. Semakin luas ilmunya, semakin tinggi nilainya. 


📌 2. “Orang yang tidak menguasai dirinya akan dikuasai oleh hawa nafsunya.”

مَن لَمْ يَملِكْ نَفْسَهُ كَانَتْ هَوَاهُ مَالِكاً لَهُ
(Nahjul Balaghah, Hikmah No. 176) 
💡 Makna: Orang yang tidak bisa menahan amarah, keserakahan, atau keinginan berlebihan akan mudah terseret ke keputusan buruk, perilaku merugikan, dan hidup yang tak terkendali. Seseorang baru benar-benar kuat jika ia mampu memimpin dirinya sendiri, bukan diperbudak oleh hawa nafsunya. Kekuatan sejati bukan soal otot, tapi kemampuan untuk tetap tenang dan memilih yang benar meski sedang tergoda atau tertekan. 


📌 3. “Ilmu lebih baik dari harta. Ilmu menjaga kamu, sedangkan kamu harus menjaga harta.”

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ، الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ                                                                                                                       (Nahjul Balaghah, Khutbah No. 147)                                                                                                                      💡 Makna:  Ilmu itu nilainya lebih tinggi daripada harta karena ilmu bisa menjaga dan membimbing hidup seseorang, sedangkan harta justru perlu dijaga, disimpan, dan bisa hilang kapan saja. Orang berilmu tahu cara hidup dengan bijak, bahkan bisa menghasilkan harta dengan pengetahuannya. Sementara itu, orang yang hanya punya harta tanpa ilmu bisa kehilangan semuanya jika tidak tahu cara mengelola. Ilmu adalah bekal abadi, sedangkan harta bersifat sementara dan bisa habis.


📌 4. “Kesabaran adalah kepala dari iman.”

الصَّبْرُ رَأْسُ الإِيمَانِ
(Nahjul Balaghah, Khutbah No. 82)                                            🪄 Makna: Seperti kepala yang menjadi bagian terpenting dari tubuh manusia, kesabaran juga menjadi bagian utama dari keimanan. Tanpa kepala, tubuh tidak bisa hidup. Begitu juga, tanpa sabar, iman akan lemah dan mudah runtuh. Dalam hidup, orang yang beriman pasti akan diuji — dan hanya dengan sabar, ia bisa tetap kuat, tidak putus asa, dan tetap berada di jalan yang benar. Sabar bukan tanda kelemahan, tapi bukti kekuatan iman yang sebenarnya.


📌 5. “Jangan paksa anakmu untuk menjadi sepertimu, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zamanmu.”

لَا تُكْرِهُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى آثَارِكُمْ فَإِنَّهُمْ مَخْلُوقُونَ لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ
(Nahjul Balaghah, Hikmah No. 238)                                     🪄 Makna: Anak-anak lahir di zaman yang berbeda, dengan tantangan, teknologi, dan cara berpikir yang juga berbeda. Memaksakan pola hidup, pilihan, atau cita-cita orang tua kepada anak bisa membuat mereka tertekan dan kehilangan jati diri. Tugas orang tua adalah membimbing, bukan mengendalikan sepenuhnya. Biarkan anak tumbuh sesuai zaman dan potensinya, selama tetap dalam nilai dan kebaikan. Mendidik anak berarti memahami perbedaan zaman, bukan memaksakan masa lalu.


📌 6. “Ketakutan terburuk adalah takut kepada manusia, dan harapan terbaik adalah berharap kepada Allah.”

أَخْوَفُ الْخَوْفِ خَوْفُكَ مِنَ النَّاسِ، وَأَرْجَى الرَّجَاءِ رَجَاؤُكَ فِي اللَّهِ                                                                                 (Diriwayatkan dari Imam Ali bin Abi Thalib a.s.)             🪄 Makna: Rasa takut yang paling melemahkan adalah takut berlebihan kepada manusia, karena itu bisa membuat kita kehilangan keberanian untuk bersikap benar. Sebaliknya, menggantungkan harapan hanya kepada Allah adalah bentuk keyakinan tertinggi, karena hanya Dia yang benar-benar berkuasa atas hidup kita. Takut kepada manusia sering membuat kita ragu, malu berbuat baik, atau kehilangan arah. Tapi kalau berharap pada Allah, hati jadi tenang, langkah jadi mantap. Jangan takut dinilai orang—takutlah jika jauh dari ridha Allah.

📌 7. “Lidah adalah binatang buas; jika kamu membiarkannya, ia akan melukai.”

اللِّسَانُ سَبُعٌ، إِنْ خُلِّيَ عَنْهُ عَقَرَ
(Nahjul Balaghah, Hikmah No. 60)                                     🪄 Makna: Perkataan bisa jadi senjata paling tajam. Jika kita tidak bisa mengendalikan lidah—berbicara seenaknya, menyakiti, memfitnah, atau berkata kasar—maka lisan itu akan menyakiti orang lain bahkan diri sendiri. Seperti binatang buas yang dilepas, lidah yang tak dijaga bisa menimbulkan kerusakan besar. Maka, menjaga ucapan adalah tanda kematangan diri dan kunci kedamaian. Bicara yang baik membawa berkah, sedangkan lidah yang liar bisa merusak segalanya.


📌 8. “Diam adalah bentuk kebijaksanaan, namun sangat sedikit yang melakukannya.”

الصَّمْتُ حِكْمَةٌ وَقَلِيلٌ فَاعِلُهُ
(Nahjul Balaghah, Hikmah No. 113)                                      🪄 Makna: Diam bukan berarti lemah, tapi tanda orang yang bijak. Kadang, dalam banyak situasi, menahan diri untuk tidak bicara justru lebih kuat daripada membalas atau berdebat. Orang yang diam tahu kapan harus bicara dan kapan harus berhenti. Tapi kenyataannya, tidak banyak orang yang mampu menahan lidah, apalagi saat marah atau tersinggung. Maka, diam yang tepat adalah bentuk kecerdasan jiwa dan kendali diri. Tidak semua yang kita pikirkan harus diucapkan.

Posting Komentar

𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎ℎ 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖… 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡— 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 🌿