MAKNA ANAK BAWANG

Setiap logo menyimpan cerita.

Ia bukan sekadar bentuk, warna, atau gaya desain, melainkan sebuah simbol yang lahir dari perjalanan panjang—penuh kerja keras, jatuh bangun, dan tekad untuk tidak menyerah.

Logo Hyundai, misalnya. Sekilas hanyalah huruf ‘H’, tapi sebenarnya menggambarkan dua orang yang sedang berjabat tangan—melambangkan prinsip kepercayaan antara penjual dan pembeli. Begitu pula dengan Toyota, yang logonya terinspirasi dari jarum dan benang. Tak banyak yang tahu bahwa sebelum menjadi produsen mobil terbesar, mereka memulai dari mesin tenun. Simbol itu adalah pengingat: bahwa setiap langkah besar selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Dan begitulah panggilan An Onion (Sebuah Bawang atau Anak Bawang).

Panggilan ini bukan dibuat asal-asalan. Ia adalah lambang dari kehidupanku, dari satu hal yang mungkin terlihat remeh bagi orang lain, tapi justru menjadi nadi dalam keluarga kami: bawang goreng.

Aku menyebut diriku Anak Bawang.
Bukan karena aku suka makanan ringan atau dijadikan bahan candaan. Tapi karena dari bawang, hidup kami berjalan. Dari tangan ibuku yang terus mengupas, mengiris, dan menggoreng setiap hari, aku belajar tentang ketekunan dan cinta yang tidak banyak bicara.

Sejak kecil, aku sudah terbiasa membantu. Di bangku SD, aku ikut paman menjajakan buah. Kadang bantu bibi berjualan ikan. Di sekolah dasar (SD), aku mencoba berjualan jajanan kecil, membantu kakak—sering kena marah guru, tapi tetap kucoba lagi haha. Saat SMA, aku membantu sekolah berjualan hijab ke teman-teman. Sedikit demi sedikit, aku mulai terbiasa dengan dunia kecil bernama “usaha”.

Ketika kuliah S1 di UIN Mataram, jiwa usahaku tidak tinggal diam.
Aku minta ibu membuatkan bakso, lalu setiap subuh dibungkus sendiri sebelum berangkat kuliah. Aku juga jualan pulsa dan paket data, beberapa produk kimia rumahan seperti sabun cuci piring, parfum laundry, softener, softsetrika dan produk lainnya. Semua itu bukan karena terpaksa, tapi karena aku tahu: mimpi harus dibiayai oleh kerja nyata. Dan ibuku, bagiku, sudah terlalu lama memikul semuanya sendirian.

Sampai akhirnya, aku memilih bawang sebagai bahan penelitianku di skripsi S1.
Mengolah limbah kulit bawang merah dan ampas tebu menjadi adsorben untuk memurnikan minyak jelantah  di bawah bimbingan dosen-dosenku yang super mendukung dan sabar dalam langkah kecil ini, Dr. Ir. edi M. Jayadi, MP dan Ibu Tercinta, Sulistiyana, M.Si. Mereka sangat luar biasa berjasa dalam meraih semua ini. Jika kalian berkenan, luangkan waktu untuk membaca atau mencari tahu juga riset-riset dan kontribusi mereka dipencarian google ya. Sampai akhirnya, banyak yang tertarik mengembangkan hal serupa dan menghubungi via email untuk berdiskusi. Penelitian sederhana, tapi penuh makna. Dari bahan yang setiap hari kami buang, ternyata bisa jadi solusi lingkungan.

Skripsi itu juga membawaku pada ajang The 2nd Biannual Conference on Research Results (BCRR) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI di IAIN Sultan Amai Gorontalo, aku dinobatkan sebagai Juara I Nasional untuk Skripsi Terbaik di Rumpun Ilmu Sains dan Teknologi. Tidak pernah menyangka. Tapi saat itu aku hanya ingin jujur pada diri sendiri, jujur pada identitasku—meneliti sesuatu yang benar-benar aku pahami dan aku alami sendiri.

Lalu, Allah membukakan jalan, tanpa privilage, seorang gadis yang tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana, keluarga yang tidak memiliki relasi yang banyak atau orang dalam.
Alhamdulillah, aku mendapat beasiswa LPDP dan melanjutkan kuliah S2 di Institut Teknologi Bandung (ITB), mengambil Kimia Analitik. Tapi perjuangan belum selesai. Di Bandung, tetap berjualan adalah side job andalan, mengingat biaya hidup yang tinggi untuk membayar kos, harga bahan pokok yang tinggi, transportasi dan lain sebagainya. Sebagian uang beasiswa kugunakan untuk menjadi reseller produk Scarlett, membuka toko di Shopee, dan menjual produk-produk lokal Bandung. Aku juga menjadi asisten praktikum. Semua ini adalah cara untuk tetap membumi, tetap berjuang di bumi perantauan.

Dan di akhir masa studi, tesis berjudul:
“Adsorben Ion Logam Ce³⁺ Berbasis Jaringan Alginat” pun di amanahkan kepadaku oleh Dosen Pembimbing yang Ma Sha Allah luar biasa baiknya, Dr. Rusnadi, M.Si. Terima kasi banyak atas kesabaran dan jalan yang telah diberikan, Beliau juga menjadi salah satu orang berkesan yang In Sha Allah selalu kudengungkan dalam do'a-do'a. Yang tertarik dengan topik serupa, bisa berkunjung dan membaca jurnal lengkapnya di sini. 
Sebuah inovasi yang berbeda dari apa yang pernah kulakukan di S1.

Bagiku, semua ini saling terhubung.

Dari dapur kecil di rumah, dari wajan penuh minyak, dari tumpukan bawang goreng yang dikemas setiap malam—hingga akhirnya ke ruang laboratorium di kampus tercinta. Semua berasal dari satu akar yang sama: semangat seorang ibu yang tak pernah berhenti bekerja.

Maka ketika kalian melihat nama panggilan atau membaca kata "Anak Bawang atau An Onion"  di blog ini, jangan anggap itu sekadar julukan. Itu adalah lambang dari perjuangan. Dari sesuatu yang kecil tapi dilakukan sepenuh hati. Dari seseorang yang memulai dari nol tapi tidak pernah malu dengan akarnya.

Karena aku percaya, tak ada keberkahan yang datang tiba-tiba. Semua berawal dari ketekunan, dari peluh yang tulus, dan dari keyakinan bahwa setiap potong bawang pun bisa mengantar langkah menuju cita-cita.

Sudah sejauh ini melangkah, tapi kadang tetap terasa seperti belum sampai ke mana-mana. Dulu sempat berdiri di panggung nasional, sempat meraih gelar yang selama bertahun-tahun diperjuangkan, namun setelah semua itu… justru muncul pertanyaan yang lebih sunyi: lalu akan ke mana setelah ini? Tidak banyak yang tahu bahwa hari-hari belakangan dijalani dalam diam—di balik layar, tanpa kabar, tanpa pengumuman besar.

Semuanya sedang dibangun kembali pelan-pelan. Bukan karena tidak punya arah, tapi karena kali ini ingin benar-benar jujur dengan diri sendiri, mencari sesuatu yang lebih bermakna dan tahan lama. Ada tulisan-tulisan yang lahir dari keraguan, ada riset-riset kecil yang dikerjakan dalam keheningan, usaha-usahan yang merambat perlahan dan cerita-cerita yang diam-diam terus ditenun, meski belum banyak yang membacanya.

Kalau teman-teman membaca ini sekarang, dan rasanya seperti mengerti… mungkin itu bukan kebetulan. Mungkin ini memang waktunya semesta mempertemukan langkah-langkah yang tak saling kenal, tapi bisa saling menguatkan. Dan jika berkenan, aku mohon dukungan yang tulus:). Tak perlu besar—cukup dengan membaca blog ini, membagikan satu tulisan, berkomentar atau hanya dengan mengirim doa baik dalam hati pun sudah sangat berarti.

📘 milainsight.blogspot.com
Di sinilah semuanya sedang dimulai ulang. Dengan pelan, dengan tulus, dan dengan harapan bahwa meski langkah ini masih senyap… arah itu, cepat atau lambat, akan datang juga.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan kecil ini dan mengunjungi blog sederhana ini.

Posting Komentar

𝑇𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑘𝑎𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎ℎ 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙 𝑖𝑛𝑖… 𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑟𝑡𝑖 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑎𝑑𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑎𝑖𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑝𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛, 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑠𝑒𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡— 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑛𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛𝑦𝑎. 𝑀𝑎𝑟𝑖 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑚𝑏𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 🌿